Indonesian English French German Greek Hebrew Italian Korean Spanish
Jumat, 11 April 2014 08:42
Rate this item
(1 Vote)

TUNDUK DAN KESADARAN DIRI

Menunduk dan memberi hormat kepada yang lebih tua dan lebih tinggi otoritasnya menjadi ciri khas kehidupan timur. Sikap ini mencermin perilaku tahu diri. Pencitraan kesetiaan juga tergambar pada masa lampau ketika para pelayanan yang ada memilih hidup mengabdi kepada tuan-tuannya hingga ganti generasi. Kesetiaan seiring waktu itu meruntuhkan semua tembok-tembok kekakuan dan ke”aku”an sehingga menjelma menjadi suatu relasi yang bernuansa keluarga yang sangat indah.

Mengapa budaya dan etika begitu indahnya mulai terasa berkurang di akhir zaman ini. Semua perilaku ini mulai bergeser seiring masuknya budaya-budaya luar. Saya lebih suka  menyebutnya kekayaan budaya dan karakteristik orang-orang ningrat pada masa itu. Perilaku dan integritas orang-orang yang dewasa. Melalui perenungan hal-hal sederhana ini saya ingin mengajak para pembaca untuk melompat keluar dari jendela ini untuk memasuki pintu rohani.

Suatu padanan untuk menemukan titik terang atas apa yang terjadi hari ini?

Pertanyaan sederhana adalah….

# Apa yang sebenarnya terjadi?

# Mengapa kasih menjadi semakin dingin dalam tatanan keluarga, persaudaraan bahkan hubungan sesama?

# Mengapa dalam dunia rohani/kekristenan, persoalan suami dan istri bahkan urusan perselingkuhan justru menjadi momok hari ini?

# Bagaimanakah pula dengan sekelompok orang yang sangat bebas dalam mengarungi arus karismatik sehingga hari-hari ini nampaknya tatanan gereja yaitu struktur kepimpinan justru terabaikan? Persoalan yang Nampak adalah pembenaran diri disana-sini sehingga terkadang mendengar perselisihan dunia rohani terasa begitu membosankannya?

Para pembaca yang terkasih dalam Tuhan, saya hanya akan mengutip Firman Tuhan untuk menemukan jalan terang….semua itu telah ada. Bahwa Tuhan telah memberikan rambu-rambu yang jelas dalam hukum-hukumNya sehingga bila kita abaikan maka kita akan kena dampaknya. Semua sisi telah diatur dengan rapi dan tertib. Mari kita lihat sama-sama……

 

Ø  Tentang tatanan gereja dan rohani

“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” (Ibrani 13:17)

“Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! (Yakobus 4:7)

Perlu menyadari bahwa kehidupan rohani…ada pencobaan, ada seteru Tuhan, ada orang-orang rohani yang palsu dan ada hal-hal yang tidak menyenangkan juga bisa terjadi…tetapi kesadaran mencintai Tuhan, melakukan Firman Tuhan dan hidup takut akan Tuhan, menjauhi kejahatan haruslah mendasari perilaku dan keputusan hidup anda.

Dalam dunia saja diajarkan hidup berbakti dan tahu budi maka kedua unsur inipun tidak boleh hilang dari karakter hidup anda. Sebab perilaku yang dikenan Tuhan adalah perilaku yang lembah lembut, pemurah, pengasih dan panjang sabar.

Selama kehidupan rohani masih dipenuhi dengan hati yang memberontak (memaksakan keinginan, merasa diri sendiri benar, punya ambisi rohani yang keterlaluan, suka banding-bandingkan hamba Tuhan, hati yang tidak tenang dan selalu jadi pemicu pertentangan, tidak puas, kecewa, kepahitan, terbelenggu kehidupan masa lalu yang pahit dan penuh kegagalan, power syndrome, lupa diri, merasa sudah bisa, merasa sudah sejajar, roh persaingan yang palsu, tipu-tipu dan tukang jual obat rohani, dan ada banyak hal…sesuatu yang harus dikenali oleh setiap pribadi).

Bila anda sudah masuk dalam suatu komunitas rohani…berarti anda harus sudah siap dan rela hati, ikutilah tatanan yang ada. Tidak ada dalih dan alasan untuk anda berbuat sesuatu yang keluar dari garis-garis rohani yang telah ditetapkan Firman Tuhan.

Buat mereka yang memang terpanggil murni untuk suatu pelayanan pengabdian maka pilihan yang anda pilih haruslah menjadi teladan dengan bukti-bukti buah pelayanan hidup pribadi, keluarga maupun pelayanan bagi sesama. Janganlah umbar perkataan yang negative dan palsu sebab pertanggungjawabannya nanti dihadapan Tuhan adalah dosa pemberontakan…dosa yang dibenci Tuhan.

 

Ø  Tentang penindasan dan bagaimanakah bersikap?

“Beginilah firman Tuhanmu, TUHAN, Allahmu yang memperjuangkan perkara umat-Nya: "Sesungguhnya, Aku mengambil dari tanganmu piala dengan isinya yang memusingkan, dan isi cangkir kehangatan murka-Ku tidak akan kauminum lagi, tetapi Aku akan memberikannya ke tangan orang yang menindas engkau, orang yang tadinya berkata kepadamu: Tunduklah, supaya kami lewat menginjak kamu! Maka engkau merentangkan punggungmu serata tanah dan sebagai jalan bagi orang yang lewat dari atasnya." (Yesaya 51:22-23)

Diperlukan kesabaran, terus berdoa dan percaya bahwa Tangan Tuhan yang akan mengadili semua perbuatan yang tidak benar dan jahat dihadapanNya. Kebenaran pasti bersinar dan berkemenangan. Orang benar pasti dapat upah yang setimpal dari Tuhan.

 

Ø  Tentang hubungan suami dan istri

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,” (Efesus 5:22) 

“Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya. Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.” (1 Korintus 7:3-4) 

“Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan”. (Kolose 3:18)  

“Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu. Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman.” (1 Petrus 3:1-6) 

“Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7) 

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Efesus 5:25) 

“Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.” (Efesus 5:28) 

“Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” (Kolose 3:19) 

Memiriskan sekali ketika anda menemukan suami-suami takut istri dan sebaliknya istri-istri yang tertindas oleh perilaku buruk seorang suami. Demikian pula halnya, terjadi perlombaan balas dendam. Karena merasa pasangan hidupnya berbuat dosa maka sebagian orang yang tidak memiliki kedewasaan rohani memilih untuk ikut terjun balas dosa. Hal-hal seperti ini akan semakin mudah terjadi dan akan banyak terjadi…gaya hidup dan perilaku manusia-manusia akhir zaman ini.

Apakah ada orang yang melandasi perkawinannya tanpa tujuan bahagia? Memiliki suami/istri yang setia sampai akhir hidup? Pertanyaan ini pararel dengan, “Apakah anda tidak ingin memiliki kehidupan berkeluarga yang bahagia?”

Tidak ada alasan apapun yang bisa mengeser tatanan berkeluarga yang harmonis ini. Segala sesuatu yang didasari Tuhan, cinta dan pilihan sendiri haruslah mendasari kebahagiaan bagi sepasang suami istri karena mereka yang taat hidup sesuai dengan padanan kitab suci pasti akan mencapainya.

Tetapi pesan saya kepada para pembaca yang masih lajang, “Lebih baik terlambat daripada salah pilih, lebih baik menunggu daripada terburu-buru dan akhirnya menyesal, lebih baik berdoa dan menyerahkan pilihan hidup pada Tuhan daripada pilih sendiri dan menyesal dikemudian hari…ujilah segala sesuatu dan padankanlah dengan kehendak Tuhan.”

Ada banyak pendapat bahkan prinsip-prinsip ini dipakai oleh orang-orang luar bahwa selagi muda kerja keras, selagi muda pakailah untuk senang dan kalau sudah mapan…kalau sudah tua barulah cari Tuhan. Hal ini adalah pilihan hidup dan tidak ada seorang pun dapat melarang asazi ini. Namun belajar dari pengalaman orang-orang terdahulu dan khususnya sekarang mereka-mereka yang sedang hadapi dilema kesakitan hidup…pilihan yang sempurna adalah mengenal Tuhan sejak awal adalah bijaksana. Menempatkan Tuhan dan kebenaran FirmanNya sebagai panduan dalam keputusan hidup adalah yang terbaik.

 

Ø  Tentang persaudaraan

“Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (1 Petrus 5:5) 

“Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.” (Kejadian 25:34) 

“Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.” (Ibrani 12:16-17)

Setiap orang muda maupun yang lebih tua dalam struktur persaudaraan haruslah hidup sebagai pribadi yang bertanggungjawab; sekalipun, adik maupun adik ipar sekalipun harus tunduk kepada yang lebih tua yaitu kakak ataupun kakak iparnya. Kesadaran, kerukunan, keharmonisan dan kasih mesra harus mendasari persaudaraan.

Namun perkara-perkara ini dapat menjadi sedikit berbeda perlakuannya ketika orang-orang yang hidup beriman mulai melakukan penyimpangan dari Firman Tuhan. Layaknya Esau, ada juga sekelompok orang yang lebih tua pada akhirnya kehilangan kehormatannya karena hidup tidak menjadi contoh dan teladan bagi yang lebih muda; Sebut saja mereka suka berbuat dosa, melakukan ritual santet dan perdukunan, meminta kekayaan di tempat-tempat keramat, kerapkali berbuat jahat dan menyakiti keluarga bahkan mendukakan kedua orang tuanya. Hal-hal seperti tidak boleh lagi terjadi ketika orang sudah mengenal Tuhan dan mulai memahami Firman Tuhan.

Apapun yang terjadi semuanya dikembalikan pada kehendan Tuhan sebab Tuhan maha pengasih dan maha penyayang….tetapi segala sesuatu haruslah menjadi berkat bagi kemuliaan Nama Tuhan yaitu perilaku hidup kita. Hiduplah takut akan Tuhan, jauhilah kejahatan dan berbuatlah segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi orang lain.

 

Ø  Tentang pekerjaan dan hidup sebagai warga Negara yang taat

“Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang yang bengis.” (1 Petrus 2:18) 

“Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi,” (1 Petrus 2:13) 

 

Semoga perenungan ini dapat menjadi terang dan garam yang mewarnai kehidupan kita dalam mengkoreksi diri dan menimbang segala sesuatunya untuk hari ini juga jauh kedepannya. Haleluyah.

Last modified on Jumat, 11 April 2014 14:16

SHEEP GATE
FAMILY

Copyright © 2011, SHEEP GATE MINISTRY