Indonesian English French German Greek Hebrew Italian Korean Spanish

Warta 2018

HINENI Januari - Juni 2018

PDF

HINENI

“Ini aku Tuhan…”

I.              KENANGAN BAGONG PUTIH

Masih ingat dalam ingatanku semua perkara sedih itu. Setiap orang yang hidup dalam kebahagiaan kasih, suatu ketika akan mengalami apa yang aku alami. Kehilangan orang yang paling kita cintai oleh karena kematian. Suatu bentuk kesakitan hidup yang tidak ada obatnya.

Hari-hari yang ditemani oleh tangisan, jeritan hati dan air mata. Semua hal berubah menjadi hambar. Bagaimanakah mungkin hidup secepat itu berganti musimnya? Tidak ada ubahnya dalam panasnya terik mentari tiba-tiba sekejab hujan turun, ya hujan ditengah-tengah mentari panas itu. Hal langka ini masih juga terjadi.

Ketika mengendarai mobil Toyota Innova hitam yang biasa dipakai almarhumah istri saya itu, justru saya kembali tersekat hati. Kesesakan oleh banyaknya kehadiran kenangan cinta bersama istri membuat saya menanggis seperti bayi yang baru lahir pertama kali didunia. Tangisan yang seringkali pecah dalam mobil itu membuat hidup kehilangan rasa.

Tuhan di sorga melalui Roh Kudus-Nya berbicara kepada saya, “Nak, mobil ini tukarkan saja dengan mobil yang baru.” Meskipun larut dalam berbagai-bagai kesedihan, saya masih bisa mendengar suara-Nya. Saya masih mentaati-Nya. Lalu dengan berbagai pertimbangan dan dukungan, mobil Toyota Innova hitam itu saya ganti dengan sebuah mobil Mitsubishi  Pajero Matic Putih dengan keluaran model terbaru.

Mobil Pajero putih ini dikemudian hari dikenal dengan sebutan bagong putih. Selain besar ukurannya juga setia menemani kemanapun saya pergi pelayanan. Mobil yang tidak pernah sedikitpun bermasalah. Mobil ini merupakan mobil berkat atas perintah Tuhan hingga dikemudian hari menemani saya setia melayani pulang pergi penginjilan ke Bandung.

Bagong putih itu hadir seiring sejarah berdirinya Pelayanan Father’s Miracle Bandung. Dan saya masih ingat saat saya membeli Pajero Matic Putih itu pada bulan Maret, saat mendekati hari ulang tahun saya. Apakah ini penghiburan yang dari Tuhan?

Enam tahun kemudian, saya menatap pada KM Pajero Putih itu menunjukkan 198.000. Alangkah jauh sudah perjalanan hidup saya bersama Bagong putih ini. Suatu perjalanan hidup dalam melayani-Nya tanpa saya sadari demikian jauhnya. Bahkan di tahun 2017, saya telah memasuki pelayanan penginjilan ke Surabaya. Suatu penginjilan yang cukup mahal harganya. Perjalanan pulang pergi naik pesawat setiap minggunya dengan biaya radio yang cukup besar.

Saya tidak paham dengan desiran yang selalu muncul pada diri saya setiap kali mendengar keluhan umat-Nya. Mereka yang terikat sakit penyakit. Mereka yang kehilangan kebahagiaan keluarga. Mereka yang mencari Tuhan. Adakah penginjilan ini merupakan cara Tuhan untuk mengisi suatu rongga dari hati saya yang kosong sejak kematian istri itu? Sebab saya merasakan kebahagian hidup ketika dapat menolong umat-Nya meskipun harus bayar harga mahal dari semua perjalanan penginjilan ini.

Lalu ditahun 2018 ini, tepatnya dibulan Maret oleh suara Roh Kudus, saya memutuskan untuk menjual Mobil Mitsubishi Pajero Matic Putih itu. Semua uang hasil penjualan mobil itu dipakai untuk menutupi biaya pelayanan, khususnya beban terberat biaya dari penginjilan di Jawa Timur.

Sejak Mobil Pajero itu dijual, pelayanan ke Father’s Miracle Bandung harus saya dan team jalani dengan cara naik bis. Suatu perjalanan pelayanan baru. Pelayanan yang tidak mudah. Saat pertama menaiki bis, hidup terasa sangat lambat dan pilihan waktu pun jadi serba terbatas. Saat pulang dari Bandung, saat itu jam menunjukkan 20.30 Wib. Bis yang terakhir itu telah dipenuhi oleh penumpang. Dua pilihan sulit malam itu. Naik berarti desak-desakan. Tidak naik bis itu berarti akan menginap.

Keputusan naik bis terakhir pada malam itu memberikan pengalaman yang luar biasa. Oleh karena penuh penumpangnya, pihak bis memberikan kesempatan untuk duduk di samping sopir menggunakan dingklik. Sisa satu kursi kecil yang biasa dipakai kondektur, kami berikan kepada Ibu Angel. Sementara didepan Ibu Angel masih ada seorang ibu yang duduk di kursi tambahan maka Ibu Angel harus duduk dengan kaki menyamping.

Sementara saya dan seorang staf gereja duduk di lantai bis. Malam itu perjalanan yang sangat berat. Toll macet sekali. Saya memilih untuk berbincang-bincang dengan sopir bis yang cukup ramah itu. Lebih dari 5 jam perjalanan itu membuat pinggang saya pegal luar biasa.

Tulisan Rasul Paulus dalam Roma 8:17  “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Berkumdang di relung hati saya yang paling dalam.

Saat saya memandang kepada Ibu Angel, nampak sekali wajah keletihan. Sementara staf yang menemani saya duduk di lantai bi situ berusaha tegar. Segera saya mengembangkan tangan saya untuk menopang Ibu Angel. Hal ini mungkin banyak tidak diketahui orang rohani, betapa TUHAN telah mengubah seorang manusia oleh karena meresponi panggilan-Nya. Ibu Angel ini yang dahulunya sulit tidur dan hamper-hampir tidak pernah tidur, sejak meresponi panggilan Tuhan dan memberi dirinya melayani di Father’s Miracle Bandung ini mengalami banyak mujizat didalam hidupnya. Saya bisa menyebutkan beberapa mujizat itu antara lain: sembuh dari kanker payudara, sembuh dari maag akut berdarah-darah dan yang luar biasa adalah bisa menerima transformasi anugerah nikmatnya hidup yaitu dari tidak bisa tidur menjadi mudah tidur dan sekejab mata sudah tertidur.

Di bis malam itu, saya melihat dengan jelas sekali Ibu Angel tertidur. Saya mengembangkan tangan saya untuk menopang kepalanya. Saya khawatir kalau sopir menginjak rem mendadak maka Ibu Angel dalam keadaan tidur itu akan menyundul kepala ibu yang duduk didepannya. Staf gereja yang menemani kami malam itu tertawa geli, seraya memuji Tuhan dan berkata, “Tante Angel memang luar biasa. Dalam suasana apapun bisa tertidur dengan lelapnya. Ini anugerah Tuhan yang tidak ternilai harganya.”

Saya dalam segala keadaan, tidak bisa menutupi suara batin yang bergejolak dan Firman Tuhan yang sekarang saya sadari telah mempengaruhi hidup saya tertulis jelas dalam  Filipi 4:12 “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.”

Satu helaan nafas panjang dalam bi situ, menghentakkan mata hati saya betapa cepatnya sang waktu. Tak terasa 7 (tujuh) tahun sudah berlalu kematian istri tercinta saya. Kenangan Pelayanan bersama istri pada KKR Berlari Mendahului Hujan Manado https://youtu.be/0za5C-kHzb8  terasa masih segar dalam ingatan.

Saya juga teringat berbagai penghakiman orang-orang rohani yang kala itu berkata ini itu. Hari ini tujuh tahun sudah berlalu dan cukup untuk menjawab semua penghakiman yang jahat itu bahwa Nazar cinta saya kepada istri dihadapan Tuhan dan manusia terjaga sampai garis akhir waktu-Nya.

Pada tahun 2018 ini Tuhan mengirimkan saya untuk memasuki pelayanan ke Jawa Tengah, tepatnya di Kota Semarang. Perjumpaan dengan rekan-rekan seiman yang dahulu pernah sama-sama menempuh pendidikan di TSOA (The School of Acts) dengan perbincangan-perbincangan membuka lembar kenangan yang lebih dari 19 (Sembilan belas tahun lamanya). Seorang sahabat yang pernah saya nubuatkan tentang kelahiran bayi dalam kandungan istrinya yang saat itu hamil dua bulan sempat memberikan kesaksian hidupnya ( youtube: https://youtu.be/EEP3dfmZNBQ)

Ternyata ada banyak hal telah terjadi tanpa saya ketahui. Rekan-rekan sejawat dalam Tuhan ini bahkan memberikan kesimpulan hidup saya, “Bro, loe ndak usah banyak jawab semua perkara negative yang kami dengar itu. Kami hari ini bisa tahu dari buahnya. Sebab segala sesuatu diukur dari buah kehidupan maka kita bisa tahu mana yang benar dan mana yang palsu.”

Tepat seperti yang ada tertulis dalam Lukas 6:44  “Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.”

 

II.            SERIBU SATU PERTANYAAN KEPADA TUHAN

Bila anda sudah membaca buku yang saya tuliskan “Dalamnya Kasih Yesus” halaman 11 maka anda akan lebih dalam  memasuki pemahaman dari tulisan bulletin ini. Tuhan menghendaki saya memasuki goa kehidupan yaitu goa kasih. Semua hal yang bermula dari Tuhan akan memasuki jalan-jalan daripada Tuhan. Semua perjalanan pilihan hidup kita sekalipun, baik anda sadari ataupun tidak, Tuhan akan secara ajaib akan menuntun anda memasuki rencana-Nya yang mulia itu.

Saya memiliki banyak sekali pertanyaan kepada Tuhan. Ada banyak hal yang saya lihat bahkan menyudutkan diri saya pada kehidupan yang penuh pertanyaan. Mungkin dimensi inikah yang Ayub alami ketika semua hal disudutkan pada kesukaran hidup tanpa jawaban dan pertolongan? Saya hanya bisa mengajak para pembaca coba menyelaminya sebatas kesanggupan, kerelaan dan kapasitas iman kita masing-masing.

Saya juga menerima banyak sekali curahan hati, belaskasihan dan doa-doa sejak saya jual mobil Pajero Putih itu. Bahkan banyak orang tua lanjut usia dalam Tuhan berkata, “Kasihan Pak Djohan, mobilnya itu kan dipakai untuk pelayanan dan buat antar anak-anak ke sekolah. Mobil satu-satunya harus dijual. Aduh….saya sedih kalau ingat ini. Tuhan pasti akan gantikan Pak Djohan dengan mobil baru.” Saya semakin tersudutkan dengan banyak hal yang luar biasa itu. Mengapa Tuhan? Mengapa saya jadi orang yang nampaknya konyol dalam kehidupan rohani ini? Berkorban untuk ketaatan kepada-Mu tanpa bisa membuktikan apapun juga dalam kehidupan ini.

Saya pernah mengalami yang lebih berat. Jauh lebih berat keadaannya ketika saya jatuh cinta mula-mula pada Tuhan. Tetapi masa itu, saya sedang lupa diri sama Tuhan. Ada banyak kesulitan hidup itu tertutupi oleh doa dan puasa. Ketika saya bandingkan kondisinya dahulu dan sekarang, kesukarannya lebih berat dahulu. Tetapi yang menjadi perbedaannya adalah kesukaran hidup dahulu saya lewati seorang diri dan berkemenangan. Tetapi hari ini saya sudah memiliki anak-anak yang mulai remaja dengan biaya hidup, pendidikan dan kebutuhan yang terus jalan. Juga saya menanggung biaya hidup mereka yang mengabdi kepada-Nya. Maka kesukaran hari ini yang sebenarnya tidak seberapa berat dibandingkan dengan kesukaran dahulu, jauh lebih berat lagi. Adakah kemenangan akan tersedia hari ini hingga masa depan? Ini pun jadi pertanyaan dihadapan Tuhan.

Dalam Matius 15:14  Tuhan Yesus berkata dengan jelas sekali tentang kehidupan kekristenan, “Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang." Orang-orang Taurat dan Farisi yang mewakili kehidupan rohani saat itu menandakan pengetahuan rohani saja tidaklah cukup. Dibutuhkan hikmat, pengertian dan pengalaman pribadi dengan Tuhan. Adakah TUHAN membuat kita mengalami semua kesukaran hidup itu demi sebuah tujuan-Nya yang mulia?

Dibalik apa yang Tuhan percayakan kepada saya dalam pelayanan ini, saya telah bertanya oleh karena banyaknya kejadian atas umat Tuhan. Perhatikan mujizat-mujizat terbaru ini yang terjadi semasa pelayanan saya seorang diri (istri saya sudah pulang ke sorga):

Kanker getah bening yang menyebabkan istri saya meninggal dunia

Bisa disembuhkan dalam pelayanan saya dikemudian hari https://youtu.be/uHtmOVNzjuQ

Dan beberapa cuplikan mujizat lainnya yang sudah diupload di yuotube

https://youtu.be/MMSXr6yPvXs

https://youtu.be/Bg_ZKf-8pSY

https://youtu.be/AoskbQV3MWA

https://youtu.be/062B-FT9Igo

https://youtu.be/RZasQztW9Fw

Dibalik perkara-perkara mujizat ini, saya meski pun penuh pertanyaan tetapi pada akhirnya saya menyimpulkan “MUJIZAT TIDAK MENJAMIN UMAT TUHAN HIDUP SETIA”. Tidak perlu kita perdebatkan perkara ini karena ini hanya sebatas kesimpulan kecil yang saya lihat didepan mata saya sendiri. Saya percaya masih banyak umat Tuhan di luar sana yang punya hati setia, tidak pindah-pindah gereja dan sekalipun tidak alami mujizat tetap setia.

Dalam banyak pertanyaan saya kepada Tuhan ini, saya telah melihat TUHAN yang luar biasa itu dengan amat kreatif menjawab saya lewat berbagai cara. Bahkan suatu juplikan Film The Grey, ketika Liam Nesson menghadap langit dan berbicara ditengah hamparan salju itu seakan membuka kehidupan saya yang penuh tanya dihadapan Tuhan. Mimpi merupakan cara yang sering Tuhan pakai untuk menjawab saya. Bahkan suara-suara –Nya jelas terdengar dari mimpi, dalam batin hingga saya terjaga pada banyak pagi.

Saudara-saudaraku yang terkasih dalam berbagai kesukaran hidup adalah pilihan terbaik untuk berdiam seribu bahasa dihadapan sesama dan bertanya kepada Tuhan secara langsung. Sebab jawaban hidup ini hanya ada pada Tuhan.

Saya teramat sering mendengar kata-kata dan filosofi, “Saat anda mengalami kesukaran hidup maka saat itulah anda akan melihat orang-orang sekitar hidupmu. Entahkan mereka hadir sebagai malaikat penolong ataukah penonton dan hakim yang jahat dalam kehidupan ini.”

Tetapi sekali lagi saya yakinkan pada para pembaca bahwa saya tersudut oleh kata-kata Ayub dan Salomo seperti yang ada tertulis, Ayb 11:7  Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?      Pkh 3:11  Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Ketika saya berjumpa dengan sahabat lama saya yang dahulunya sangat militan ikut Tuhan, dikemudian hari memilih untuk menekuni akupuntur dan ilmu fenghsui itu, suatu ketika kami disudutkan pada kesimpulan yang sama yaitu kami kagum pada Tuhan melalui karya-Nya pada kehidupan seorang hamba Tuhan yang kami sama-sama kenal. Saya tidak kenal dalam, sementara sahabat saya ini sangat dalam mengenalnya.

Roh Kudus bermanifestasi lewat pelayanan hamba Tuhan ini telah menjadi sebuah fenomena baru bagi gereja. Fenomena itu teramat dahsyat. Sahabat saya ini bercerita bahwa mobil kredit Panther itu dikala masa susahnya hamba Tuhan ini, kredit saja perlu penjamin. Tetapi dikemudian hari hamba Tuhan ini telah berkelimpahan.

Suatu malam saya diperintahkan Roh Kudus menyetel kaset jadul khotbah hamba Tuhan ini kira-kira 25 tahun yang lalu. Saya mendengar hal-hal yang mentakjubkan dalam khotbah itu. Saya merasakan Roh Kudus berbicara kepada saya secara pribadi tentang hari ini dan masa depan. Bahkan ada pesan-pesan masa depan berkaitan kehidupan sebagai hamba Tuhan yang harus dicapai dalam pembaharuan. Adakah saya merasakan bahagia sejak menerima semuanya itu? Tidak! Saya merasakan kesakitan pada batin terdalam saya.

Bahkan ingatan pelayanan saya di Talaud semasa dahulu membuka lembar kesedihan lebih mendalam. Baiklah saya membuka ceritanya sedikit saja dan silahkan anda mengamatinya untuk meraih hati pembaharuan. Ketika itu saya mengisi 2 (dua) hari KKR di Talaud. Saya bahkan ingin mempraktekkan suatu dimensi kesembuhan tanpa campur tangan manusia yaitu suatu pelayanan lawatan Roh Kudus secara langsung. Maka dalam KKR itu jauh-jauh hari saya sudah berdoa untuk meminta TUHAN melakukan hal ajaib ini.

Dan Tuhan menjawab saya lewat semua keajaiban yang terjadi pada dua hari KKR itu. Tetapi selepas KKR team pelayanan yang saya bawa terjadi keributan dan perdebatan sengit. Apakah pemicunya? Seorang tamu undangan dalam KKR itu tanpa ijin panita, tanpa berita tiba-tiba melakukan suatu aksi. Roh Kudus yang sedang melawat umat-Nya tanpa campur tangan manusia itu dinodai oleh “oknum rohani” ini.

Team KKR yang malam itu melihatnya secara langsung jadi tersandung dan marah. Nampak seorang pria menuntun orang sakit kaki, seakan orang lumpuh berjalan dan luar biasanya video ini diupload di youtube juga. Saya harus menenggahi team KKR selepas pelayanan malam itu hingga keesokan harinya masih berlangsung perdebatan sengit. Team KKR yang merasa oknum itu mencuri kemuliaan Tuhan mencap dengan istilah “oknum KW”.

Lalu mereka bertanya, “Kami sangat marah Pak dengan perbuatan pria itu yang tidak ada etikanya dalam pelayanan dan mencuri kemuliaan Tuhan. Bisa-bisanya mendoakan orang ditengah-tengah lawatan Tuhan yang memang saat itu tidak perlu didoakan. Kenapa Pak Djohan tidak marah? Kan seharusnya Pak Djohan yang punya acara KKR ini sebagai hamba Tuhan di mimbar kok tenang-tenang saja?”

Saya hanya bisa tersenyum melihat team KKR ini lalu berkata, “Semuanya punya Tuhan. Buat apa diributkan. Kalau ada yang mau curi kemuliaan dan merasa senang atas semuanya itu ya biar dia berurusan langsung dengan Tuhan.” Saya dapat memaklumi semua perasaan team KKR yang sedang dilanda ketidakpuasan itu karena hal seperti ini “kelakuan oknum pria itu” sangatlah tidak lazim dan mungkin akan ditanggapi beda bila rekan-rekan sejawat yang lain di posisi saya.

Saya mengamati semuanya ini hingga hari dimana saya menuliskan bulletin ini karena Ibu Angel bertanya kepada saya, “Pak, siapakah hamba Tuhan ini? Menuliskan kata-kata seperti ini? Nampak rohani sekali dan bawa-bawa kata kemurnian.” Dan belum sempat saya menjawabnya, “Ahhh,,,,ini adalah orang yang mencuri kemuliaan dalam KKR Talaud itu ya Pak?

Seribu satu pertanyaan kembali bergema dalam batin saya malam ini, mau jadi apakah generasi gereja akhir zaman ini dengan mereka yang berdiri di altar-Nya dengan penuh ambisi, ketidakmurnian dan kenekatan yang tak jelas itu? Benih apakah yang disemai didalam rumah Tuhan dengan kehidupan yang palsu itu? Dan saya memaklumi pelajaran yang belum bisa jawab atas orang-orang rohani yang saya bombing, “Mengapakah Tuhan mengijinkan orang-orang yang hidupnya benar alami kesukaran sementara yang tidak murni bergelimang materi?”

Seribu satu pertanyaan saya itu belum ada jawaban-Nya tetapi saya meyakinkan kepada para pembaca, marilah kita membuka pintu kesempatan sebesar-besarnya bagi semua saudara seiman kita dan dukunglah mereka yang disebut hamba dan pelayan Tuhan untuk mencapai kesadaran dan pertobatan. Bahkan kepada saya sendiri selaku penulis tak luput dari kelemahan dan kesalahan maka perlu anda dukung dalam doa.

Tulisan-tulisan ini merupakan keterbukaan yang perlu anda tangkap dan pahami melalui iman yang murni dan hati yang tulus supaya bisa menangkap maksud baik Tuhan dibalik apa yang pernah dan sedang terjadi didalam kehidupan rohani hari ini. Kita tidak perlu menghakimi siapapun juga karena penghakiman milik Tuhan. Kita perlu menabur kasih.

Baiklah saudaraku, mungkin anda jadi bertanya-tanya kenapa bulletin 2018 ini diberi judul Hineni “Here I am Lord”. Seperti yang telah saya tuliskan di atas bahwa Tuhan punya cara-cara yang ajaib untuk berbicara kepada saya dan anda para pembaca. Salah satu jawaban Tuhan kepada saya merupakan judul bulletin ini.

 

III.           HINENI

Jumat, 20 April 2018 saya terjaga oleh karena sebuah mimpi dan dikejutkan dengan sebuah kata yang terdengar di batih dan telinga saya, “Hineni.” Kata ini sangat asing dan tidaklah saya pahami. Tetapi terdengar jelas sekali. Lalu suara lembut itu berkata, “raihlan ipad dan ketiklah kata Hineni itu.”

Pagi-pagi buta itu saya meraih ipad yang sudah pecah itu namun setia disebelah tempat tidur saya dan mengetikkan kata “Hineni”. Apakah ini merupakan jawaban Tuhan atas seribu satu pertanyaan hidup saya hari ini?

Ijinkan saya mengutip dari berbagai sumber tulisan rohani yang saya temukan di internet pagi ini sebagai pelengkap tulisan bultetin ini:

Dalam Tradisi ibadah Yahudi Rabinik, seorang pemimpin ibadah/ doa/ pujian di dalam Sinagoga:  memulai pelayanannya dengan berkata הִנֵּנִי - HINENI. Hal tersebut sebagai suatu konfirmasi kepada Allah dan kepada dirinya sendiri, bahwa dia sepenuhnya fokus dan hadir untuk tanggung jawab yang besar untuk melayani jemaat Allah. Dan pada awal doa, dimulai dengan pembukaan kata-kata : 
 

הִנְנִי הֶעָנִי מִמַּעַשׂ - HINENI HE'ANI MIMA'AS, artinya: Ini aku, seorang miskin yang melayani (ingin melakukan suatu perbuatan baik).

 

Ketika saya membaca sepenggal tulisan diatas itu saya jadi teringat akan catatan kitab suci, “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” (2 Korintus 8:9)

Kita tanpa sadar ketika membaca cerita Tuhan Yesus berkali-kali menyatakan kerelaan dalam kehidupan-Nya sebagai pedoman dan teladan Hineni untuk taat sampai mati di atas kayu salib:

  1. Rela menderita dan tidak perlu ditolong (Matius 26)
  2. Rela Membayar Pajak (Matius 17)\
  3. Kerelaan untuk pikul salib penderitaan (Matius 26)
  4. Pengorbanan demi umat manusia (Yesaya 54:10-12)

Keputusan seorang percaya untuk ber-Hineni tidak didasari oleh sebuah kepasrahan apalagi sebuah keputusasaan. Dasar orang percaya ber-Hineni adalah karena CINTA kepada Tuannya. Imannya bukan lagi kuat, namun sudah bulat. Orang tersebut sadar bahwa dia memiliki pilihan untuk menjadi orang "merdeka", hidup berdasarkan kehendak bebas (free will) yang Tuhan berikan sejak mulanya, namun pada akhirnya ia MEMBUANG KEMERDEKAANNYA dan mengikat seluruh hidupnya total kepada Tuannya KARENA CINTA.

Dalam tulisan lain saya juga menemukan pemahaman Hineni, “Hineni adalah perkataan jawaban yang mengekspresikan sikap hati menghamba dari seseorang yang dipanggil kepada pemanggilnya, baik pemanggilnya itu manusia maupun Tuhan. Semua orang yang mengenal Tuhan sepantasnya memiliki sikap hati hineni.

“Apa pun juga model relasi kita dengan Tuhan (anak-Bapa, hamba-Majikan, budak-Tuan, mempelai wanita-Mempelai Pria, sahabat-Sahabat), apa pun jawatan pelayanan kita (rasul, nabi, penginjil, gembala, pengajar), apa pun juga jabatan gerejani kita (penilik jemaat, penatua, diaken, dll.) atau pun panggilan kita, tanpa kecuali semuanya harus memiliki sikap hati menghamba. Karena bagaimana pun juga, Tuhanlah Pencipta kita, Penebus kita, dan dengan demikian Pemilik kita.

Anda dapat menemukan banyak sekali tulisan dan pemahaman tentang Hineni ini. Saya justru baru mengetahui semuanya ini sejak Roh Kudus berkata hari ini.

Setelah membaca banyak tulisan yang luar biasa tentang Hineni ini, saya diberikan pemahaman secara sederhana atas seribu satu pertanyaan hidup saya hari ini melalui kunci master jawaban-Nya:

Hineni = Ini aku Tuhan……

Hineni merupakan suatu respon pribadi dan berharga dari panggilan Tuhan atas kehidupan ini. Suatu sikap dan kesiapan untuk menerima konsekwensi dari panggilan Tuhan. Kerelaan untuk mengikuti teladan Tuhan Yesus yaitu pikul salib, rela memberitakan Injil, rela menderita dan mempertahankan iman murni hingga garis akhir hidup.

Beberapa hal yang saya temukan dalam kitab suci untuk mengarahkan kita kembali kepada kasih mula-mula Tuhan:

§  Hineni merupakan jawaban sejajar antara alam Roh dengan alam nyata

Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" Yesaya 6:8

Ketika Nabi Yesaya mencapai dimensi Roh untuk melihat dan mendengar secara langsung kehendak Tuhan maka “Hineni – ini aku, utuslah aku” merupakan jawaban yang dinyatakan di alam Roh juga terikat pada alam nyata.

Keadaan inilah yang seringkali saya lihat dalam pelayanan yaitu ketika Tuhan membukakan kepada saya alam penglihatan di alam roh maka saya bisa menyampaikannya sebagai pesan Tuhan yang dikenal dengan istilah rohani “nubuatan” dan hal itu dikemudian hari terjadi di alam nyata. Karena rentang waktu alam roh dengan alam nyata, seringkali tergenapi semua penglihatan itu pada masa depan.

§  Hineni sebagai pilihan hidup dihadapan Tuhan hingga kematian

Perhatikan apa yang terjadi pada saat Musa telah melewati 40 tahun pengasingan dan pelarian hidupnya itu. Peristiwa nyala api di semak duri itu;

Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah." Keluaran 4:4

Dapatkah kita mensejajarkan jawaban Musa “Ya, Allah dengan Hineni”? Ketika Tuhan memanggil nama Musa saat itu. Hal ini menyatakan kepada kita bahwa Tuhan akan lebih dahulu memanggil kita maka kita baru bisa menyatakan Hineni dihadapan Tuhan dan manusia.

Setiap pelayanan haruslah didasari oleh panggilan Tuhan supaya suatu masa dalam keadaan apapun juga, seseorang yang memahami panggilan Tuhan dalam hidupnya tetap teguh berjalan pada komitmen hidup yang dinyatakan kepada Tuhan. Sebab tanpa memahami panggilan Tuhan dan terburu-buru masuk dalam pelayanan gereja maka seketika pencobaan sijahat akan menghancurkan iman hidupmu, “Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis.

Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis.” I Timotius 3:6-7

Pemahaman akan Hineni akan membuat orang-orang Kristen tidak main-main dalam panggilan dan pelayanan. Lihat dampaknya bila orang tidak memahami panggilan Tuhan:

“Tetapi Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus." Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa. (Keluaran 4:13-14a) Ternyata TUHAN yang seringkali kita perdebatkan secara teori rohani ini memiliki kedaulatan yang luar biasa. Tidak bisa ditakar secara manusiawi. Pengetahuan saja tidak cukup untuk menyimpulkan kedaulatan-Nya.

Cerita kitab suci bukanlah suatu dongeng ataupun dibuat-buat tetapi tulisan yang diilhamkan Roh Tuhan secara terbuka. Dampak penolakan Musa karena pertimbangan manusiawinya yaitu sisi keterbatasan hidupnya, ternyata mendatangkan murka Tuhan. Kita harus punya satu kepercayaan teguh bahwa TUHAN itu Maha Kuasa maka semua keterbatasan manusiawi kita tidak dapat membatasi panggilan-Nya.

Dan dari catatan ayat berikutnya: “Tetapi di tengah jalan, di suatu tempat bermalam, TUHAN bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya. Lalu Zipora mengambil pisau batu, dipotongnya kulit khatan anaknya, kemudian disentuhnya dengan kulit itu kaki Musa sambil berkata: "Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku." Keluaran 4:24-25 Dapat memberikan kepada kita beberapa hal yang sangat baik sehubungan panggilan Tuhan yaitu:

  1. Keluarga haruslah diutamakan dan haruslah memiliki pengenalan yang sama
  2. Hidup ini perlu dikelilingi oleh orang-orang yang murni dan memberikan nasehat yang bijaksana
  3. Sekali Hineni dengan Tuhan maka sampai garis akhir hidup tetap untuk Tuhan

Bila anda melepaskan Hineni anda karena kesukaran hidup, karena berbagai godaan uang dan kekayaan, karena berbagai tipu jahat setan dibalik kejatuhan dan fitnah mkaa anda harus menyadari bahwa semuanya itu kesalahan, kekeliruan dan kesesatan iman dalam perjalanan Hineni menuju garis akhir hidup anda dihadapan Tuhan. Kematian saja yang dapat memutuskan Hineni hidup anda kepada Kristus Yesus.

Sekarang marilah sejenak kita melihat kehidupan Ayub bagaimana kesukaran hidup tidak mengoyahkan Ayub:

“Lalu Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah abu.  Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!"

Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Teman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia. Ayub 2:8-11

Sedikit kesukaran yang kita alami janganlah membuat hidup jadi cengeng. Janganlah terpenjara dalam perasaan mengasihani diri sendiri. Janganlah menyalahkan siapapun juga. Sebab selagi masih ada nafas hidup maka kesempatan masih ada. Pengharapan didalam Tuhan tidak akan sia-sia. Selama anda berjalan pada koridor kehendak Tuhan maka anda tidak akan dipermalukan. Semua hanya masalah waktu saja sebelum Tuhan mengangkat dan memberkati hidup anda…..Sabarlah menantikan pertolongan-Nya.

Penderitaan Ayub sudah mencapai taraf tertinggi dalam rangking penderitaan hidup di dunia ini. Penghiburan yang sejak semula dirancangkan sahabat-sahabatnya justru menjadi ajang perdebatan rohani. Segala sesuatu hanya nampak “mana yang benar dan mana yang salah” bergantung kepada penilaian TUHAN semata.

Lihatlah penilaian Tuhan dibalik perdebatan rohani Ayub dengan ketika sahabatnya, “maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: "Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub. Ayub 42:7

Hineni orang benar akan menyimpang seketika pada penilaian dunia oleh karena serangan setan. Hineni orang benar akan nampak “kalah/gagal/kesukaran hidup” oleh karena ujian iman dan kesalehan dihadapan Tuhan, setan dan manusia.

Tuhan Yesus sudah pesankan kepada kita yang hidup di generasi akhir zaman ini, “Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.”  Matius 10:21-22

Secara sederhana saya dapat menyimpulkan bahwa Hineni yang bertahan sampai garis hidup adalah Hineni yang hidup dalam Kasih.

Sebagai bagian penutup dari tulisan bulletin ini, ijinkan saya menuliskan beberapa ayat kitab suci untuk menghibur saudara-saudara seiman dalam proses HIneni menuju garis akhir bersama Tuhan kita Yesus Kristus bahwa anda adalah orang yang berbahagia karena:

·         Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. Yakobus 1:25

·         Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan. Yakobus 5:11

·         Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. 1Petrus 3:14

·         Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya. Wahyu  20:6

Terpuji-pujilah Nama Tuhan. Semoga Kita semua bisa mencapai Hineni yang sejati sesuai dengan kehendak Tuhan sampai hari Penghakiman Kristus nanti. Amin

SHEEP GATE
FAMILY

Copyright © 2011, SHEEP GATE MINISTRY